Awal Bertemu
Awalnya, tempat itu hanya sebuah coffee shop biasa dengan aroma biji kopi yang pekat dan riuh suara cangkir bersentuhan. Hari itu, seorang teman mempertemukan kita. Tidak ada kembang api, tidak ada adegan serba lambat seperti di drama. Hanya sapaan canggung, senyum tipis, dan pertukaran kontak WhatsApp agar tidak terkesan tidak sopan.
Di minggu-minggu pertama, obrolan kita terasa begitu kaku. Obrolan kita sering kali membentur dinding perbedaan: cara pandang yang bertolak belakang, selera yang tak sama, bahkan ritme hidup yang berlawanan. Ada masa ketika pikiran "sepertinya kita kurang cocok" hadir begitu kuat. Namun, alih-alih berputar balik, kita memilih untuk tetap di sana—belajar mendengar dan mencoba menerima bahwa berbeda bukan berarti tak bisa sejalan.
Lalu, sebuah plot twist manis terjadi.
Masih di tahun yang sama, tanpa disadari, canggung itu perlahan menguap. Obrolan singkat berubah menjadi pembicaraan hingga larut malam. Sudut pandang yang dulu terasa asing justru menjadi ruang aman yang baru. Nyaman itu tumbuh diam-diam, membawa rasa suka yang makin hari makin sulit disangkal. Seseorang yang tadinya terasa tidak cocok, kini menjadi orang pertama yang selalu dicari setiap kali hari terasa berat.